BUKU SPIRITUAL QUANTUM LEAP

 BUKU SPIRITUAL QUANTUM LEAP
















Kita pun akan bertemu di suatu hari nanti dengan pemahaman yang sama dan dalam kejernihan yang sama, sehingga hanya dengan hati kita bisa saling memahami.


Evolusi spiritual masih terus berjalan dan ujung dari pengetahuan pun belumlah nampak. Evolusi terakhir di jaman Kaliyuga ini adalah evolusi SAHASRARA. Kita ditinggalkan warisan jejak jejak evolusi dari CHAKRA AJNA, hampir semua pencapaian spiritual masa lalu berhenti di CHAKRA AJNA sebagai POLA FIKIR, titik yang berada di antara kedua alis manusia sebagai sarana pijakan bagi manusia lebih mengenal dirinya sebagai bagian yang ILAHI saat itulah hilangnya dualitas antara MAHLUK DAN TUHANNYA, saat itulah manusia BERTUBUH RAJA karena saat di CHAKRA AJNA manusia MENEMUKAN KESEJATIAN TENTANG DIRINYA, AREA GELAP KETUHANAN pun mulai tereksplorasi pelan namun pasti KESADARAN AKAN MULAI TERBANGKITKAN timbunan timbunan memori masa lalu pun mulai terkeruk keluar sebagai tanda bahwa manusia itu mulai terbebas dari dihukumi dan menghukumi karena KURANGNYA PENGETAHUAN maka DIRI MENGHUKUMI DIRINYA.

Saat kita belajar dengan panduan PENDIDIKAN KASIH SAYANG yang ada di tiap masa maka alangkah ABSURDNYA jika kita DIHUKUMI SAAT PROSES BELAJAR bukankah kita berada di DIMENSI KE 3 ini dalam misi BELAJAR, dan saat dalam proses BELAJAR ITU ALANGKAH TIDAK BIJAKSANA APABILA TUBUH FISIK DIDERA HUKUMAN. Kecuali di di dimensi ketiga ini adalah tempat BUANGAN atau tempat HUKUMAN.

Ada sementara yang berpendapat bahwa dimensi ketiga ini adalah tempat HUKUMAN BAGI ADAM AWAL nenek moyang dari homo sapien atau kita bangsa manusia, ah masak iya adam datang ke dimensi ketiga ini sebagai yang terhukum atau sebenarnya datang sebagai pengelola bukan sebagai BUDAK yang perlu dicambuk siang malam tanpa henti, ya kita seharusnya mulai SADAR bahwa kita adalah PERCIKAN DARI SANG MAHA SADAR, apapun sebutannya kita masih BERBAU BERAROMA SANG MAHA SADAR UNTUK KELAK KEMBALI KE SANG MAHA SADAR.

Di batang tubuh manusialah KESADARAN ITU MULAI TERBANGKITKAN, CHAKRA MOOLADHARA ADALAH POROSNYA DAN NADI IDA DAN PINGGALA SERTA SUSHUMNA ADALAH TIGA TIANGNYA DAN CHAKRA SAHASRARA ADALAH RANGKUMAN DARI KESELURUHANNYA.

Timbunan karma hasil pembelajaran MASA LALU dari tiap tiap masa yang dilalui oleh RUH DAN JIWA perlahan mulai dimunculkan kembali agar dapat dituntaskan dengan sebaik baiknya dan dapat pulang ke alam kelanggengan.

Kita adalah para perenang bebas di ranah spiritual perlahan namun pasti mulai MENYADARI proses pencahayaan proses PENCERAHAN proses terbangkitkannya KESADARAN MANUSIA SECARA KOLEKTIF setelah beberapa ratus tahun terkorupsi dan terhenti mandek dan berjalan di tempat kita perlahan lahan mulai terbangunkan dari tidur yang panjang.

Tiap tiap sel yang ada di tubuh manusia mulai bergetar dan digetarkan dengan hebatnya karena tidaklah mungkin bagi RUH DAN JIWA untuk tinggal diam dan dibuat sama sekali tertinggal dalam proses evolusinya hanya karena memenuhi ego segelintir manusia berkekuatan besar menahan laju evolusi dengan pemonopolian sebuah AJARAN, bukankah air sudah seharusnya mulai mengalir bukankah sudah seharusnya api menyala berkobar kobar bukankah sudah seharusnya angin mulai berhembus dan tanah sudah seharusnya menumbuhkan benih yang ditanam dan benih itu Bernama TANAMAN TUHAN YAITU TANAMAN DARI TUHAN.

Mencari dan mulai mencari

Pemahaman tentang diri

Awalnya banyak dirintangi

Tetap melihat ke diri

Dan timbulah yang sejati


Dan saat pemahaman itu mulai menyeruak keluar dari selubung pekatnya tabir yang berusaha menutupi ANDAPUN MENJADI MANUSIA YANG SAMA SEKALI BARU. Anda terlahir kembali sebagai manusia yang berkesadaran selubung kulit anda mengelupas seluruhnya hingga kulit ari kebodohan tertanggalkan secara keseluruhan.

Jikapun saat kebodohan itu menanggisi keterkelupasannya

Dari kesadaran bab kesejatian 

Cahaya kasih sayang itu begitu sungguh murni

Hingga luka luka ribuan tahun pun

Sekali terjamah mengering dan sembuh



Bilur bilur itupun tertera dengan jelasnya

Sudah berulang kali tumimba dalam kelahiran

Bahkan saat lingkaran di mata sudah terlihat

Lingkaran berapa banyaknya jaman yang dilalui

Akupun menunggu kelahiran terakhirku 


Dengan matanya yang nanar memandang

Antara setengah percaya dan tidak

Akupun keluar dari pemahaman dengan cahayaku

Memenuhi tiap relung jelaga noktah kesunyian

Yang memandang seakan tidak bermata

Dan saat aku meresapi tiap jalan

Aku pun tidak menemukan jalan

Hingga pada saatnya akupun mulai menyala.


Dan diantara ada dan tiada

Diantara jaga dan tertidur

Pengetahuanku ada dan mulai menari

Jiwa jiwa yang murni 

Mulai bergerak  perlahan diantara mayaku

Dan mayamu pun juga terserap

Dalam indahnya kemurnian jiwa jiwa

Kita yang bernaung di pohon kehidupan

Satu parade besar

Dan menari dalam tarian ilahi.


Di antara dua sembahnya hilang menjadi puji

Saling puji memuji

Sembah itupun menjadi fana

Saat diri bercermin

Aku tidak menemukan diriku

Antara aku dan mayaku

Sudah melebur menyatu

Dalam ruamg rindu 

Dan ilahipun bersabda dalam nam

Wahai kekasihku sudah waktunya

Dirimu terbangun dari tidur panjangmu.


Karam sudah semuanya dalam cinta

Lautan cahaya itupun mulai padam

Hanya ada cinta 

Akupun mulai menggeliat dari dasar bumi

Naga pertala naga naga 

Dan semua alam alam bawah

Mulai naik ke langit

Membawa berita pada langit

Alam alam penderitaan

Alam alam kesengsaraan

Alam alam kebodohan

Mulai jatuh satu persatu tiang tiangnya

Aku berdiri kokoh di antaranya

Dan akupun mulai merasuki dunia 

Alam alam tinggi

Alam para dewata satu persatu

Aku menyusuri hingga kadang terperangkap

Dan harus memulai dari awal 

Selalu aku terjatuh dan bangkit lagi

Sudah berulang kali dalam siklus

Seperti lingkaran setan yang selalu

Bertemu awal dan akhir

Menunggu luruh ke titik tengah

Untuk memulai yang baharu


Bahkan jika para dewa 

Sekalipun dsatang ke tempat ini

Mereka akan terperangkap

Dan terus terperangkap

Hanya kesadaran 

Yang mampu membebaskan

Oh dimensi ke 3

Tempat ini selalu dirindukan

Untuk bercocok tanam kebaikan

Mengumpulkan pundi pundi pahala

Dan pembebasan tertinggi

Tapi jebakanmu

Oh dimensi ke 3

Hanya beberapa yang dapat lolos

Dan kembali.


Aku memasuki alam antara 

Antara alam bawah

Dan alam atas

Aku tahu di tempat ini aku sendiripun 

Dapat terjatuh dan tergelincir

Dan terlahir dalam alam kesengsaraan

Ataupun alam hewan

Dan dikehidupan ini aku melakukan penebusan

Penebusan yang akan membawa

Diriku dalam 7 fase kelahiran sebelum terselesaikan

Fase awal aku mulai tersadar

Tentang masa lalu

Dan saat pada fase ini

Ada jaminan

Tidak terlahir di alam sengsara ataupun hewan

Di mooladhara aku bertapa

Lama sekali dalam tapa

Dan lagi lagi aku terpedaya

Materi datang seperti air bah

Akupun lupa dibuat lupa

Jika hidup bukan sekedar materi

Hampir sepuluh siklus

Aku berada di mooladhara

Dan disiklus kesepuluh aku sadar

Dan melompat ke halte selanjutnya

Oh swadisthan aku datang

Di swadisthan aku termurnikan

Aku mendapatkan pengetahuan murni

Dan lagi lagi aku terjebak

Dalam tapaku di swadisthan 

Dalam pengetahuan murni

Sudah banyak resi memperingatkan

Dan akupun kembali mengulang siklusku

Hingga mencapai 5 sikluis

Hingga akupun

Dapat meloncat ke siklus nabhi


Oh nabhi tempatku bertapa 

Menemukan guru sejati

Guru pribadi pembimbing diri

Oh guru janjiku untuk taat padamu

Dan lagi lagi

Aku mengabaikan petunjuk guru sejati

Egoku membuat harus mengulang

3 kali siklus tumimba lahir

Di nabhi maafkan aku.


Dan aku pun dapat masuk

Ke pertapaanku selanjutnya di

Anahata

Tempat aku bertemu dengan ruh 

Ruh yang akan menjembatani

Sebagai jembatan

Antara aku dan tuhan

Di anahata

Aku bertapa dengan sepenuh hati

Tanpa syarat apapun dan aku lolos kali ini

Dan memasuki visudhi


Maha visudhi

Mikro makro melebur

Terbukanya alam semesta

18 sidhi

Menjadi 32 sidhi

Lalu menjadi ribuan sidhi

Wahamku mulai timbul

Aku merasa paling super

Paling hebat

Hingga aku terperangkap lagi

9 kali siklus tumimba lahir

Di pertapaan visudhi

Dengan susah payah

Aku lolos dan masuk

Di pertapaan ajna

Oh agni oh ajna


Aku bertapa dalam kobaran api ajna

Masa masa penderitaan

Masa masa pembayaran

Masa masa peleburan

Aku mulai bercermin kembali 

Dalam mayaku 

Masih palsu

Aku tahu ini belum halte terakhir

Masih ada halte sahasrara

Dan aku berada di agni selama 3 kali siklus

Terima dan terima

Yang dilawan adalah dirimu

Musuhmu adalah dirimu

Maka berdamailah


Dan akupun memasuki sahasrara

Tempat bertapaku

Yang paling akhir

Dan masih terus membayar karma

Hingga aku dapat menyelesaikannya

Sebaik mungkin

Sahasrara

Tempat moksa terputusnya

Tumimba lahir

Dan aku yang sedang bertapa

Di sahasrara.


Lakukan saja kebaikan demi kebaikan nanti akan terakumulasi menjadi BENAR sehingga anda akan memasuki REL SPIRITUAL karena BENAR itu akan memposisian anda dalam KESEJATIAN.

TETAP LAKUKAN SESUAI AKAR ANDA DILAHIRKAN jadi tetap pakai agama yang anda anut sebagai akar dari pohon spiritual yang akan tumbuh karena TUHAN sudah menempatkan anda sesuai dengan TAKDIR yang anda jalani.

Kita sadari ataupun tidak untuk bertemu dengan terbangkitkannya KUNDALINI keluar sarangnya dari PERINIUM membutuhkan BENAR dan untuk memicu hadirnya BENAR anda sebaiknya melakukan kebaikan demi kebaikan karena kita tidak bisa menunggu hanya menunggu sebaiknya anda memulai menjemput bola memulai inisiatif memanjat pohon kelapa daripada menunggu jatuhnya buah kelapa yang entah kapan jatuhnya dan belum tentu dalam keadaan TERBAIK.

Jika suatu saat anda bertemu GURU FISIK atau kebenaran yang lebih tinggi TUBUH FISIK ANDA serta MENTAL ANDA sudah menjadi LEBIH DEWASA dalam menyikapi EVOLUSI DIRI ANDA.

Karena seperti kita ketahui saat KESADARAN HADIR maka SELAU berbarengan dengan ENERGY YANG BESAR dan KEKUATAN YANG BESAR serta tanggung jawab yang juga besar.

Dimana ada KESADARAN MAKA DISITU JUGA ADA ENERGI ini anda ingat ingat suatu hari nanti saat pencapaian anda mulai meninggi persiapkan TUBUH DAN MENTAL ANDA karena saat tubuh manusianya siap biasanya mentalnya akan dibuat GONCANG, terima dan terima tanpa syarat.

Akan semakin mudah perjalanan anda di evolusi selanjutnya akan tetapi manusia biasanya kuat saat mendapat beban berat dan terjatuh saat mendapati beban kecil tetap eling dan waspada karena di tiap tiap maqom atau tingkatan problem yang anda hadapi akan menjadi halus dan sangat sulit terdeteksi.

Boleh saja di tingkatan awal anda mengandalkan ritual dan Latihan Latihan anda akan tetapi ditingkatan tinggi yang dibutuhkan adalah ELING WASPADA dan berhati hati ini pesan papa han pada para master dan Kultivator spiritual jangan pernah mengandalkan banyaknya ritual atau Latihan sebagai bahan acuan KESADARAN.

PENEMBUSAN HINGGA INTI

Melakukan penembusan hingga inti dari tiap maqom atau tingkatan karena di tiap evolusi chakra yang anda lalui anda akan berhadapan dengan karma karma yang pernah terjadi dan bersangkutan dengan sebuah chakra di tubuh anda, lakukan hingga seluruh karma yang ada di sebuah chakra dapat terbayar sempurna dan dapat termurnikan, memang hal ini bukan pekerjaan sehari jadi bisa harian bulanan atau bahkan tahunan atau beberapa siklus tumimba lahir, perangkap jebakan disebuah chakra yang membuat anda terlena dan melupakan misi anda di kelahiran kali ini contoh anda saat bertapa di chakra mooladhara dibanjiri dengan kekayaan materi dan anda lupa dengan evolusi anda di chakra mooladhara hingga harus mengulang kembali di reinkarnasi selanjutnya.

Jebakan materi ini pun hingga membuat papa han mengulang sebanyak 10 kali tumimba lahir hingga bisa naik ke chakra swadisthan, bahkan jika ada orang suci sekalipun yang menceramahi anda saat anda sedang bergelimang harta benda akan anda tutup kuping anda rapat rapat dan menganggapnya sebagai angin lalu hingga pada suatu masa di kehidupan anda merasa bosan dengan materi duniawi dan anda terbebas dari perangkapnya hingga anda dapat melanjutkan perjalanan ke chakra selanjutnya.

Hampir disemua chakra yang akan anda lalui selalu terdapat jebakan dan perangkap dari mulai yang kasar hingga yang sangat halus, tetap intens melakukan PENEMBUSAN SAMPAI INTI CHAKRA, jika ilmu ini mudah maka akan banyak manusia yang mempelajarinya dan ternyata sangat sulit dan berat.

Memang benar penembusan ke INTI CHAKRA adalah sesuatu yang ALAMI akan tetapi akan terjadi PEMBOROSAN WAKTU terjadi pengulangan demi pengulangan yang tidak perlu seperti keledai yang terjebak di lubang yang sama berkali kali.

Dan bahkan Ketika anda sudah bertemu dengan GURU SEJATI ANDA guru pribadi anda guru yang akan membimbing anda 24 jam nonstop pemandu spiritual anda yang sejati itupun kadang masih diabaikan dan dianggap angin lalu saat tidak berkesesuaian dengan logika manusia tersebut. Akan banyak hal hal yang tidak masuk akal terjadi lho kok begini sepertinya tidak mungkin, hello tinggalkan intelek anda pakai rasa anda hingga timbul pemahaman.

Kundalini adalah salah satu cara melakukan penembusan hingga inti chakra dengan mudah, penembusan hingga ke inti chakra akan melalui 7 lapisan tubuh yang artinya anda akan menembusi hingga 7 dimensi paralel atau alam alam horizontal ingat 7 alam horizontal bukan vertikal.

Jaman dulu penembusan hingga inti chakra memakai prana dan di beberapa dimensi horizontal prana itu akan kembali berbalik saat disalurkan dan menunggu waktu yang tepat saat gerbang dimensi horizontal membuka.

Seperti kita ketahui kita hidup tidak sendiri kita terhubung dengan dimensi dimensi lainnya jika anda selama ini berfikir kita hanya hidup sendiri di dimensi ke 3 ini rubah fikiran anda sangat banyak dimensi horizontal yang ada biasa dikenal sebagai sekat dimensi.

Penampang luarnya hanya sebuah LUBANG CHAKRA jika anda cermati itu adalah sebuah GERBANG DIMENSI yang terhubung dengan dimensi dimensi yang tidak terhitung jumlahnya sepertinya kecil akan tetapi saat terhubung akan terhubung dengan sesuatu yang MAHA LUAS.

Manusia bentuk MIKRO ALAM SEMESTA dan alam semesta yang maha luas ini dapat KARAM atau tenggelam oleh MANUSIA.

Buku ini ditulis untuk memenuhi rasa haus para penjelajah spiritual, disaat kita berkultivasi seorang diri kadang kita butuh referensi sebagai bahan acuan sudah sampai dimana proses evolusi diri ini apakah ada yang senasib seperti diri saya dalam mengarungi sesuatu yang MAHA.

Ada karma di chakra yang bisa dibayar dengan sejumlah materi dan ada karma yang hanya bisa dibayar dengan TINDAKAN, termasuk karma yang berhubungan dengan HUTANG BUDI pada leluhur dibayar dengan materi dan Tindakan PENYEMPURNAAN.

Anda perhatikan saat anda berada di chakra tertentu atau anda bertapa di chakra tertentu perhatikan baik baik orang orang yang berinteraksi dengan anda hanya orang orang yang khusus berkaitan dengan chakra yang sedang teraktivasi, saat anda meloncat ke chakra yang lebih tinggi tiba tiba orang yang biasa berinteraksi dengan anda tiba tiba hilang atau tidak lagi hadir berinteraksi artinya anda sudah melonjak secara vibrasi.

Hal ini sudah papa han perhatikan selama bertahun tahun saat papa han mengajar suatu hal berkaitan dengan chakra chakra tinggi maka yang hadir rata rata orang orang yang berada di chakra yang sama hingga semakin tinggi chakra yang kita capai semakin sedikit manusia yang mampu berinteraksi, kadang timbul pertanyaan pada kemana ini teman teman yang dulu pernah ada.


Dan bahkan murid pun

Akan terbakar egonya

Saat berdekatan dengan 

Seorang guru

Api seorang guru

Berkobar membumbung tinggi

Hingga saat murid berhadapan

Dengan guru

Mulailah api itu membakar dirinya.

Daya bakar api guru

Dapat menembus 

Hingga inti pengetahuan

Dan saat itupun 

Murid menjadi curiga

Dan berburuk sangka

Hingga fitnahpun berhamburan

Padahal saat itu api guru

Sedang mensucikan murid

Hanya sedikit yang dapat lulus

Dari api pensucian

Karena bertemu seorang guru

Adalah jodoh

Dan tidak dapat dipaksakan

Ada yang sudah saatnya

Untuk bertemu

Dan ada yang belum saatnya

Guru akan datang

Saat murid sudah siap.














MUDRA

Rangkuman mudra mudra

Untuk kehidupan manusia.









Mudrā [muːˈdrɑː]  (Dewanagari: मुद्रा, dalam bahasa Sanskerta artinya: "lambang" atau "segel") adalah gestur atau sikap tubuh yang bersifat simbolis atau ritual dalam Hinduisme dan Buddhisme. Ada beberapa mudrā yang melibatkan seluruh anggota tubuh, akan tetapi kebanyakan hanya dilakukan dengan tangan dan jari. Mudrā adalah gestur spiritual dan penanda energi dan keaslian dalam ikonografi dan praktik spiritual dalam tradisi agama Dharma serta Taoisme.

Dalam yoga, mudrā dilakukan bersamaan dengan pranayama (latihan pernapasan yoga), umumnya dilakukan sambil bersila dalam pose Wajrasana, dilakukan untuk merangsang berbagai bagian tubuh yang berkaitan dengan latihan pernapasan dan memengaruhi aliran prana dalam tubuh.

Mudrā kerap digunakan dalam ikonografi kesenian Hindu dan Buddha di India dan disebutkan dalam beberapa naskah, seperti Natya Shastra, yang mencantumkan 24 asaṁyuta ("terpisah", artinya "satu-tangan") dan 13 saṁyuta ("bersama", artinya "dua-tangan") mudrā. Posisi mudrā biasanya terbentuk dari tangan dan jemari. Bersama dengan asana ("postur duduk"), dan dilakukan baik secara statis dalam meditasi maupun secara dinamis dalam Natya Yoga yang dipraktikan dalam ajaran Hinduisme. Masing-masing mudrā memiliki dampak tertentu bagi pelakunya. Beberapa sikap tangan dapat ditemukan baik dalam ikonografi Hindu maupun Buddha. Di beberapa kawasan seperti Thailad dan Laos terdapat penafsiran dan bentuk tersendiri.

Menurut Jamgon Kongtrul dalam komentarnya tentang Hevajra Tantra, ornamen tulang simbolis the (Skt: aṣṭhiamudrā; Tib: rus pa'i rgyanl phyag rgya) juga dikenal sebagai "mudra" atau "segel"..

Mudrā adalah bentuk dasar praktik yoga, sebagai contoh, buku paling populer yang diterbitkan sekolah yoga di Bihar disebut Asana, Pranayama, Mudrā, Bandha.

  • Chin Mudrā

  • Chinmaya Mudrā

  • Adi Mudrā

  • Brahma Mudrā

  • Prana Mudrā

  • Anjali Mudra

Mudrā dalam Buddhisme. 

  • Abhaya Mudrā

  • Bhumisparsha Mudrā

  • Dharmachakra Mudrā

  • Dhyāna Mudrā

  • Varada Mudrā

  • Vajra Mudrā

  • Vitarka Mudrā

  • Jnana Mudrā

  • Karana Mudrā

  • Borobudur dirancang membentuk mandala besar yang melambangkan kosmologi buddhis, suatu konsep alam semesta dalam buddhisme. Aslinya terdapat 504 arca buddha duduk bersila dalam posisi lotus serta menampilkan mudra atau sikap tangan simbolis tertentu. Terdapat lima golongan mudra: Utara, Timur, Selatan, Barat, dan Tengah, kesemuanya berdasarkan lima arah utama kompas menurut ajaran Mahayana yang diwakili oleh masing-masing Dhyani Buddha. Keempat pagar langkan memiliki empat mudra: Utara, Timur, Selatan, dan Barat, dimana masing-masing arca buddha yang menghadap arah tersebut menampilkan mudra yang khas. Arca Buddha pada pagar langkan kelima dan arca buddha di dalam 72 stupa berterawang di pelataran atas menampilkan mudra: Tengah atau Pusat. Masing-masing mudra melambangkan lima Dhyani Buddha; masing-masing dengan makna simbolisnya tersendiri.[2]

  • Mengikuti urutan Pradakshina yaitu gerakan mengelilingi searah jarum jam dimulai dari sisi Timur, maka mudra arca-arca buddha di Borobudur adalah:


Arca

Mudra

Melambangkan

Dhyani Buddha

Arah Mata Angin

Lokasi Arca

Bhumisparsa mudra

Memanggil bumi sebagai saksi

Aksobhya

Timur

Relung di pagar langkan 4 baris pertama Rupadhatu sisi timur

Wara mudra

Kedermawanan

Ratnasambhawa

Selatan

Relung di pagar langkan 4 baris pertama Rupadhatu sisi selatan

dhyana mudra

Semadi atau meditasi

Amitabha

Barat

Relung di pagar langkan 4 baris pertama Rupadhatu sisi barat

Abhaya mudra

Ketidakgentaran

Amoghasiddhi

Utara

Relung di pagar langkan 4 baris pertama Rupadhatu sisi utara

Witarka mudra

Akal budi

Wairocana

Tengah

Relung di pagar langkan baris kelima (teratas) Rupadhatu semua sisi

Dharmachakra mudra

Pemutaran roda dharma

Wairocana

Tengah

Di dalam 72 stupa di 3 teras melingkar Arupadhatu




Bhumisparsa mudra

Bhūmisparśa atau mudra "saksi bumi" Buddha Gautama adalah salah satu gambar ikonik agama Buddha yang paling umum. Nama lain termasuk "Buddha memanggil bumi untuk menyaksikan", dan "menyentuh bumi". Ini menggambarkan kisah dari legenda Buddhis saat Buddha mencapai pencerahan penuh, dengan Buddha duduk bermeditasi dengan tangan kirinya, telapak tangan tegak, di pangkuannya, dan tangan kanannya menyentuh bumi. Dalam cerita tersebut Sang Buddha ditantang oleh iblis Mara, yang meminta seorang saksi untuk membuktikan haknya untuk mencapainya. Sebagai jawaban dia menyentuh tanah, meminta Pṛthivi, dewa bumi, bahwa dia menyaksikan pencerahannya, yang dia lakukan.


Di Asia Tenggara dan Asia Timur mudra ini (juga disebut sikap Maravijaya) mungkin menunjukkan jari-jari Buddha tidak mencapai tanah, seperti biasa dalam penggambaran India.

Wara mudra/ varada mudra

*•Wara Mudra* ,yaitu sikap tangan sedang memberi anugerah.

Varadamudrā "gerakan kedermawanan" menandakan persembahan, sambutan, amal, memberi, kasih sayang dan ketulusan. Itu hampir selalu ditampilkan dibuat dengan tangan kiri oleh sosok yang dihormati yang mengabdikan diri untuk keselamatan manusia dari keserakahan, kemarahan dan delusi. Itu dapat dibuat dengan lengan ditekuk dan telapak tangan diluruskan sedikit ke atas atau dalam kasus lengan menghadap ke bawah, telapak tangan disajikan dengan jari-jari tegak atau sedikit ditekuk. Varada mudrā jarang terlihat tanpa mudra lain yang digunakan oleh tangan kanan, biasanya abhaya mudrā. Ini sering dikacaukan dengan vitarka mudrā, yang sangat mirip. Di Cina dan Jepang selama periode Wei Utara dan Asuka, masing-masing, jari-jari kaku dan kemudian secara bertahap mulai mengendur seiring waktu, akhirnya mengarah ke standar dinasti Tang di mana jari-jari secara alami melengkung.


Di India, varada mudra digunakan oleh figur duduk dan berdiri, Buddha dan boddhisatva dan figur lainnya, dan dalam seni Hindu secara khusus diasosiasikan dengan Wisnu. Itu digunakan dalam gambar Avalokiteśvara dari seni Gupta (abad ke-4 dan ke-5) dan seterusnya. Varada mudrā banyak digunakan di patung-patung Asia Tenggara. Varadamudra adalah mudra, dan itu menunjukkan gerakan tangan dan melambangkan pemberian anugerah. Untuk varadamudra, tangan kanan digunakan. Itu direntangkan, dengan telapak tangan paling atas dan jari-jari menunjuk ke bawah. Varadamudra dan abhayamudra adalah yang paling umum dari beberapa mudra lain yang terlihat pada tokoh-tokoh ilahi dalam seni agama-agama India.


Seringkali tangan terbuka ditunjukkan dengan kuncup teratai di tengahnya.


Dyana mudra

Dhyāna mudrā ("mudra meditasi") adalah gerakan meditasi, konsentrasi Hukum Baik dan Sangha. Kedua tangan diletakkan di pangkuan, tangan kanan di kiri dengan jari-jari terentang penuh (empat jari saling bertumpu dan ibu jari menghadap ke atas satu sama lain secara diagonal), telapak tangan menghadap ke atas; dengan cara ini, tangan dan jari membentuk bentuk segitiga, yang melambangkan api spiritual atau Tiga Permata. Mudra ini digunakan dalam representasi Buddha Gautama dan Amitābha. Kadang-kadang dhyāna mudrā digunakan dalam representasi tertentu dari Bhaiṣajyaguru sebagai "Buddha Pengobatan", dengan mangkuk obat diletakkan di tangan. Ini berasal dari India kemungkinan besar di Gandhāra dan di Cina selama Wei Utara.


Ini banyak digunakan di Asia Tenggara dalam Buddhisme Theravada; namun, ibu jari diletakkan di atas telapak tangan. Dhyāna mudrā juga dikenal sebagai "samādhi mudrā" atau "yoga mudrā", Hanzi: ; pinyin: [Chán]dìng yìn; Pengucapan bahasa Jepang: jōin, jōkai jōin.


Mida no jōin (弥陀定印) adalah nama Jepang dari variasi dhyāna mudra, di mana jari telunjuk disatukan dengan ibu jari. Ini sebagian besar digunakan di Jepang dalam upaya untuk membedakan Amitābha (maka "mida" dari Amida) dari Buddha Vairocana, [11] dan jarang digunakan di tempat lain.

Abhaya mudra

Witarka mudra

Dharmachakra mudra





Mudra (/muˈdrɑː/ (Tentang dengarkan suara ini); Sansekerta: , IAST: mudrā, "segel", "tanda", atau "gerakan"; bahasa Tibet: , THL: chakgya,) adalah simbol atau ritual isyarat atau pose dalam agama Hindu, Jainisme, dan Buddha.[Sementara beberapa mudra melibatkan seluruh tubuh, sebagian besar dilakukan dengan tangan dan jari.


Selain sebagai gerakan spiritual yang digunakan dalam ikonografi dan praktik spiritual agama-agama India, mudra memiliki makna dalam banyak bentuk tarian India, dan yoga. Kisaran mudra yang digunakan di setiap bidang (dan agama) berbeda, tetapi dengan beberapa tumpang tindih. Selain itu, banyak mudra Buddhis digunakan di luar Asia Selatan, dan telah mengembangkan bentuk lokal yang berbeda di tempat lain.


Dalam hatha yoga, mudra digunakan bersama dengan pranayama (latihan pernapasan yoga), umumnya saat dalam posisi duduk, untuk merangsang berbagai bagian tubuh yang terlibat dengan pernapasan dan untuk mempengaruhi aliran prana. Hal ini juga terkait dengan bindu, bodhicitta, amrita, atau kesadaran dalam tubuh. Tidak seperti mudra tantra yang lebih tua, mudra yoga hatha umumnya merupakan tindakan internal, yang melibatkan dasar panggul, diafragma, tenggorokan, mata, lidah, anus, alat kelamin, perut, dan bagian tubuh lainnya. Contoh keragaman mudra ini adalah Mula Bandha, Mahamudra, Viparita Karani, Khecarī mudrā, dan Vajroli mudra. Ini berkembang dalam jumlah dari 3 di Amritasiddhi, menjadi 25 di Gheranda Samhita, dengan sepuluh set klasik muncul di Hatha Yoga Pradipika.


Patung Buddha Shakyamuni India membuat mudra bhūmisparśa atau "saksi bumi",



Patung perunggu dewa Hindu Nataraja (Siwa) dari dinasti Chola abad ke-10 dengan berbagai mudra

Kata mudrā memiliki akar bahasa Sansekerta. Menurut sarjana Sir Monier Monier-Williams itu berarti "segel" atau "alat lain yang digunakan untuk menyegel"


Mudra digunakan dalam ikonografi seni Hindu dan Buddha di anak benua India dan dijelaskan dalam kitab suci, seperti Nātyaśāstra, yang mencantumkan 24 asaṁyuta ("terpisah", yang berarti "satu tangan") dan 13 saṁyuta ("bergabung", yang berarti mudra "dua tangan"). Posisi mudra biasanya dibentuk oleh tangan dan jari. Bersamaan dengan āsana ("postur duduk"), mereka digunakan secara statis dalam meditasi dan secara dinamis dalam praktik Nāṭya dalam agama Hindu.


Ikonografi Hindu dan Buddha berbagi beberapa mudra. Di beberapa wilayah, misalnya di Laos dan Thailand, ini berbeda tetapi berbagi konvensi ikonografi yang terkait.


Menurut Jamgön Kongtrül dalam komentarnya tentang Tantra Hevajra, ornamen dewa dan penyihir murka yang terbuat dari tulang manusia (Skt: aṣṭhimudrā; Wylie: rus pa'i rgyanl phyag rgya) juga dikenal sebagai "segel" mudra.


Sebuah gambar Buddha dapat memiliki salah satu dari beberapa mudra umum, dikombinasikan dengan asana yang berbeda. Mudra utama yang digunakan mewakili momen-momen tertentu dalam kehidupan Buddha Gautama, dan merupakan penggambaran singkat 


"Gerakan keberanian" Abhayamudrā

"Gerakan keberanian" Abhayamudrā  adalah mudrā (gerakan) yang merupakan gerakan kepastian dan keamanan, yang menghilangkan rasa takut dan memberikan perlindungan dan kebahagiaan ilahi di banyak agama India. Tangan kanan dipegang tegak, dan telapak tangan menghadap ke luar.Ini adalah salah satu mudrā paling awal yang ditemukan yang digambarkan pada sejumlah gambar Hindu, Buddha, Jain dan Sikh.


Abhayamudrā melambangkan perlindungan, kedamaian, kebajikan, dan penghilangan rasa takut. Dewa Hindu Nataraja digambarkan dengan tangan kanan kedua membuat Mudra Abhaya, memberikan perlindungan dari kejahatan dan ketidaktahuan kepada mereka yang mengikuti kebenaran dharma. Dalam Buddhisme Theravada, biasanya dibuat dengan tangan kanan diangkat setinggi bahu, lengan ditekuk dan telapak tangan menghadap ke luar dengan jari-jari tegak dan bergabung dan tangan kiri menggantung ke bawah sambil berdiri. Di Thailand dan Laos, mudra ini diasosiasikan dengan Buddha Berjalan, sering diperlihatkan memiliki kedua tangan membuat abhayamudrā ganda yang seragam.


Abhayamudrā mungkin digunakan sebelum permulaan agama Buddha sebagai simbol niat baik yang mengusulkan persahabatan ketika mendekati orang asing. Dalam seni Gandhara, hadir saat menampilkan aksi dakwah. Itu juga digunakan di Cina selama era Wei Utara dan Sui pada abad ke-4 dan ke-7.


Gerakan itu digunakan oleh Buddha Gautama ketika diserang oleh seekor gajah, menundukkannya seperti yang ditunjukkan dalam beberapa lukisan dinding dan skrip. [rujukan?] Dalam Buddhisme Mahayana, dewa sering memasangkannya dengan mudrā lain menggunakan tangan yang lain.

Bodhyangi mudrā, "mudrā dari enam elemen," atau "tinju kebijaksanaan

Bodhyangi mudrā, "mudrā dari enam elemen," atau "tinju kebijaksanaan," adalah gerakan yang mengharuskan jari telunjuk tangan kiri digenggam dengan tangan kanan. Hal ini biasa terlihat pada patung Buddha Vairocana.


Dharmachakra Pravartana Mudrā


Sang Buddha membabarkan khotbah pertamanya setelah Pencerahan di Taman Rusa di Sarnath. Dharmachakra Pravartana atau "putaran roda"[10] mudrā mewakili momen itu. Pada umumnya, hanya Buddha Gautama yang ditampilkan membuat mudrā ini kecuali Maitreya sebagai pemberi Hukum. Dharmachakra mudrā adalah dua tangan yang saling berdekatan di depan dada dalam vitarka dengan telapak tangan kanan ke depan dan telapak tangan kiri ke atas, terkadang menghadap ke dada. Ada beberapa varian seperti pada lukisan dinding Gua Ajanta, di mana kedua tangan dipisahkan dan jari-jari tidak bersentuhan. Dalam gaya Indo-Yunani Gandhara, kepalan tangan kanan yang terkepal tampaknya menutupi jari-jari yang bergabung dengan ibu jari di tangan kiri. Dalam pemotretan Hōryū-ji di Jepang, tangan kanan ditumpangkan di sebelah kiri. Beberapa tokoh Amitābha, Jepang terlihat menggunakan mudra ini sebelum abad ke-9.

Dharmachakra Pravartana Mudrā



Vajra Mudrā

"Gerakan guntur" Vajra mudrā adalah gerakan pengetahuan. Contoh penerapan Vajra mudrā adalah teknik ketujuh (dari sembilan) dari Sembilan Segel Suku Kata.


Vitarka Mudrā

Vitarka mudrā "mudra diskusi" adalah isyarat diskusi dan transmisi ajaran Buddhis. Ini dilakukan dengan menyatukan ujung ibu jari dan telunjuk, dan menjaga jari-jari lainnya tetap lurus seperti mudrā abhaya dan varada tetapi dengan ibu jari menyentuh jari telunjuk. Mudra ini memiliki sejumlah besar varian dalam Buddhisme Mahayana. Dalam Buddhisme Tibet, itu adalah gerakan mistik Tārā dan bodhisattva dengan beberapa perbedaan oleh para dewa di Yab-Yum. Vitarka mudrā juga dikenal sebagai Vyākhyāna mudrā ("mudra penjelasan").






Jñāna Mudrā


Jñāna mudrā ("mudra kebijaksanaan") dilakukan dengan menyentuh ujung ibu jari dan telunjuk bersama-sama, membentuk lingkaran, dan tangan dipegang dengan telapak tangan ke dalam menuju jantung. Mudra mewakili pencerahan spiritual dalam agama-agama asal India. Terkadang sadhus memilih untuk dikubur hidup-hidup dalam posisi samadhi ini. Sebuah kerangka tua 2700 diatur seperti ini ditemukan di Balathal di Rajasthan, menunjukkan bahwa sesuatu seperti yoga mungkin telah ada pada waktu itu.


Karana Mudra

Mudra karana adalah mudra yang mengusir setan dan menghilangkan rintangan seperti penyakit atau pikiran negatif. Itu dibuat dengan mengangkat telunjuk dan jari kelingking, dan melipat jari lainnya. Ini hampir sama dengan "tanda tanduk" Barat, perbedaannya adalah bahwa di mudra Karana ibu jari tidak menahan jari tengah dan jari manis. Mudra ini juga dikenal sebagai tarjanī mudrā.












Mudra adalah kata Sansekerta yang mengacu pada gerakan tangan simbolis yang memiliki kekuatan bawaan dan menghasilkan kegembiraan dan kedamaian bagi pikiran dan jiwa orang yang mempraktikkannya. Berlatih mudra


 setiap hari membantu meningkatkan kesehatan seseorang secara keseluruhan dan akan membuat Anda tenang.


Tangan kita memiliki kekuatan penyembuhan diri yang telah digunakan selama berabad-abad untuk mengobati berbagai penyakit. Tangan kita merujuk menafsirkan karma kita dan atau jari menafsirkan titik kekuatan kita. Jari-jari kita mengikat hubungan antara energi kosmik universal dan kekuatan prana.


Mudra telah digunakan sejak zaman kuno dan ada sekitar 399 mudra. Mereka adalah bagian dari ritual Hindu dan Buddha dan sebagian besar digunakan dalam tarian, yoga, dan meditasi.


Mudra membantu menghubungkan otak kita dengan tubuh. Ada berbagai jenis mudra tangan dan masing-masing memiliki kemampuan untuk mempengaruhi tubuh emosional, fisik dan spiritual kita. Berlatih mudra tangan membantu menjaga pikiran dan tubuh kita tetap positif dan tenang, meredakan rasa sakit, meningkatkan vitalitas, meningkatkan kesenangan dan memberikan perasaan sejahtera. Ada banyak sekali manfaat yang diberikan mudra tangan ini kepada kita, beberapa di antaranya adalah:


GYAN MUDRA

Gyan mudra mengacu pada sikap pengetahuan dan kebijaksanaan. Melakukan mudra ini termasuk dengan ringan menyatukan ibu jari dan ujung jari telunjuk, meregangkan tiga jari lainnya. Mudra ini telah digunakan selama ribuan tahun oleh para yogi dan pengikutnya. Melakukan mudra ini memberikan ketenangan pikiran, ketenangan tubuh dan kemajuan positif bagi jiwa. Gyan mudra sangat efisien karena membantu mengurangi gangguan tidur, melepaskan stres dan

marah, meningkatkan konsentrasi dan memori, menghilangkan depresi dan sakit kepala. Ini dapat dilakukan kapan saja saat Anda melakukan yoga, merasa stres atau marah, atau bermeditasi.


PRANA MUDRA

Prana mudra mengacu pada sikap hidup. Melakukan mudra ini termasuk menggabungkan ibu jari ke ujung jari manis dan jari kelingking dengan ringan dan menjaga dua jari lainnya tetap terentang. Mudra ini membantu Anda untuk meningkatkan energi Anda, membersihkan aura Anda dan memberikan getaran positif yang keluar dari diri Anda. Setiap kali Anda merasa lelah dan stres, Anda dapat berlatih mudra ini

dan itu akan membuat pikiran Anda merasa rileks. Prana mudra bermanfaat untuk semua jenis penyakit dan dipercaya dapat mengirimkan kekuatan khusus pada mata.


PRITHVI MUDRA

Prithvi mudra mengacu pada gerakan bumi. Melakukan mudra ini dengan memasukkan ibu jari dengan kuat ke ujung jari manis, sementara tiga lainnya direntangkan. Pose teratai adalah salah satu pose yang paling sering dilakukan dengan mudra ini. Berlatih Prithvi mudra selama 30-45 menit setiap hari sangat bermanfaat karena membantu dalam meningkatkan fokus, memperbaiki sistem pencernaan, menghilangkan kekurangan vitamin, mengurangi stres dan kelemahan dan penambahan berat badan.


VARUN MUDRA

Varun mudra mengacu pada gerakan air. Elemen terbesar dari tubuh manusia adalah air, dan varun mudra bekerja untuk hal yang sama. Ini membantu dalam mencegah semua penyakit yang muncul karena kekurangan air atau kekeringan. Melakukan mudra ini termasuk menggabungkan ibu jari ke ujung jari kelingking. Mudra ini harus dilakukan dalam posisi duduk atau berbaring.


SURYA MUDRA

Surya mudra mengacu pada gerakan api. Ini adalah mudra yang sangat kuat dan membantu menjaga suhu tubuh dan menjaga metabolisme tetap kuat. Untuk melakukan mudra ini, lipat jari manis dan gabungkan ujungnya ke bagian bawah ibu jari sementara ibu jari menekan tulang tengah jari manis.



KESIMPULAN


Cobalah semua mudra tangan di atas untuk merasakan kehidupan yang lebih baik dan damai.


Hipertensi adalah bahaya bagi kesehatan yang mengkhawatirkan dan yang mempengaruhi Anda dalam banyak cara. Dengan begitu banyak yang harus dilakukan setiap hari, kita menjadi sangat stres, dan itu menghasilkan peningkatan adrenalin dalam aliran darah yang meningkatkan tekanan. Hipertensi menyebabkan beberapa gangguan penghubung, yang dapat membuat Anda kesulitan untuk melanjutkan hari hari Anda. Meskipun ada obat untuk tekanan darah tinggi  tetapi tidak baik untuk jangka panjang dan bukan kebiasaan yang baik untuk minum pil terlalu banyak. Dengan bantuan beberapa mudra Yoga, Anda dapat mengontrol tekanan darah tinggi Anda.


Jantung manusia bekerja sebagai pompa karena memasok darah yang kaya oksigen ke berbagai organ tubuh melalui pembuluh darah dan memompa darah yang miskin oksigen kembali ke paru-paru untuk mendapatkan energi dengan oksigen baru. Tekanan darah adalah kekuatan yang diberikan oleh darah ketika mengalir melawan dinding pembuluh darah. Segala jenis penyumbatan di pembuluh darah yang menyimpan kolesterol, gumpalan darah, penyempitan pembuluh darah karena pengerasan akan mendesak darah untuk menambah berat saat mengalir. Hal inilah yang memicu timbulnya masalah hipertensi. Setiap kali tidak diobati, masalah ini akan menyebabkan otot jantung melemah dan lebih jauh lagi beberapa masalah jantung yang kritis.

Mudra terbaik untuk mengontrol tekanan darah tinggi: 


Yoga adalah cara yang murni dan benar untuk menyembuhkan masalah batin dalam tubuh Anda. Anda tidak perlu bekerja terlalu keras untuk melakukannya dengan benar; ikuti instruksi dan tetap bernapas saat Anda berlatih mudra. Hanya 20 menit dalam sehari dengan yoga, dan Anda tidak akan memiliki masalah hipertensi sepanjang hidup Anda!

1. Aakash Mudra

Dari semua mudra untuk darah tinggi, ini sangat mudah dan cepat. Gabungkan ujung jari tengah ke ujung ibu jari dan tahan sambil menghembuskan napas selama beberapa menit. Hal ini sangat membantu dalam menyingkirkan hipertensi dan segala macam emosi negatif. Diyakini bahwa seseorang yang mempraktikkan Aakash Mudra merasa lebih mudah untuk terhubung dengan kesadaran kolektif Tuhan. Ini membantu seseorang memikirkan pikiran yang mulia bahkan dalam situasi kehidupan yang sulit.


2. Vaayan Mudra

Satukan ujung jari tengah dan jari telunjuk Anda ke ujung jari ibu jari Anda untuk Vaayan Mudra. Ini membantu dalam mengurangi tekanan darah dengan cara terbaik! Juga dikenal sebagai Vatta Katak Mudra, mudra ini sangat membantu dalam meningkatkan humor Vatta tubuh sehingga meningkatkan kekuatan dan kekuatan vital tubuh.


3. Apanvayu Mudra

Saat menghirup dan menghembuskan napas, letakkan ujung jari telunjuk Anda di bagian bawah ibu jari. Sekarang gabungkan ujung jari tengah Anda bersama dengan jari manis dengan ujung ibu jari untuk membentuk mudra ini. Mudra ini juga sangat sering disebut sebagai mudra hati. Tidak hanya hipertensi tetapi mudra ini juga membantu dalam kesulitan bernapas, angina pektoris, serangan jantung, gagal jantung, dll. Latihan mudra ini setiap hari sangat membantu dalam menyingkirkan semua jenis penyumbatan jantung yang membantu mengatur tekanan darah. Selain ini membantu dalam mengoksidasi darah sambil memperbaiki kerusakan yang mungkin terjadi pada otot jantung untuk kesehatan jantung yang lebih baik.


4. Pran Mudra

Satukan ujung jari kelingking, jari manis dan ibu jari Anda untuk melakukan mudra ini. Mudra ini sangat membantu dalam membangkitkan kekuatan prana. Selain itu, juga membantu dalam menyingkirkan penyakit mata, meningkatkan penglihatan mata, meningkatkan daya tahan tubuh, menghilangkan rasa lelah dan mengurangi rasa lapar. Seseorang yang mempraktikkan mudra ini secara teratur tidur nyenyak.


5. Surya Mudra

Cara melakukan Mudra ini adalah dengan membiarkan ujung jari manis menyentuh pangkal ibu jari sambil memberikan sedikit tekanan pada jari manis Anda. Ada peningkatan yang signifikan terlihat pada masalah hipertensi dengan mudra ini. Ini juga sangat membantu dalam meningkatkan panas tubuh, sangat berguna bagi orang yang memiliki masalah kelebihan berat badan dan masalah pencernaan. Ini juga membantu dalam mengurangi kolesterol. Satu-satunya tindakan pencegahan yang harus diambil saat melakukan asana ini adalah bahwa orang yang lemah tidak boleh mempraktikkannya saat panas.

6. Chinmaya Mudra

Untuk melakukan mudra ini, letakkan ibu jari dan jari telunjuk Anda untuk membentuk cincin sementara jari-jari lainnya harus ditekuk di telapak tangan Anda. Mudra ini populer untuk meningkatkan kesehatan fisik dan mental. Masalah hipertensi berkurang secara signifikan dengan mudra ini. Ini juga membantu dalam merangsang proses pencernaan dan merangsang pencernaan.


Dibutuhkan hanya sekitar 3 hingga 5 menit untuk setiap mudra, dan Anda akan mengatasi masalah seumur hidup dengan mudah dan cepat, dan cara terbaik untuk mencegah banyak penyakit. Latihlah secara teratur untuk mencapai stabilitas yang lebih baik dari keempat elemen dalam diri anda dan mencapai kebugaran pada tingkat fisik, mental, dan spiritual.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

suhandono wijoyokusumo

kundalini

50 Questions and Detailed Answers about Dantian